Senin, 21 Desember 2009

CAP (Condition Assesment Program)


CAP adalah program penilaian kondisi kapal, baik lambung maupun system operasinya (marine systemnya), dimana hasil penilaian dari kondisi kapal tersebut akan disajikan dalam bentuk peringkat (CAP rating), biasanya CAP rating akan berkisar antara CAP rating 1 – 4.
CAP sendiri merupakan program yang secara umum meliputi, close up survey terhadap kondisi kapal, pengukuran ketebalan struktur & pelat lambung kapal (UT thickness measurement -UTM), penilaian fatigue design (fatigue design assessment) dan terkadang termasuk sisa perhitungan kekuatan memanjang kapal yang ada (remaining longitudinal strength) dengan kondisi kapal setelah survey & UTM.
Bagi kebanyakan badan kalsifikasi, CAP merupakan program voluntary karena bukan merupakan bagian classification survey, karena hampir semua badan klasifikasi IACS mempunyai standard dalam melakukan CAP ini. Hal ini mungkin dikarenakan badan-badan klasifikasi tersebut mempunyai standard/rule, faham tentang regulasi/ statutory dan survey kapal, serta memiliki software perhitungan kekuatan dan fatigue assesement – seperti GL dengan Poseidon, DNV yang memiliki Nauticus, Veristar oleh BV, Safehull ABS, dan Shiprightnya Lloyd’s Register.
Pada awalnya CAP dilakukan oleh badan klasifikasi kapal atas permintaan mayoritas perusahaan minyak yang merupakan charterer kapal. Charterer menginginkan adanya informasi yang menyeluruh tentang kondisi kapal – umumnya dialkukan untuk oil tanker dengan usia yag cukup tua – yang akan disewanya dari pemilik (shipowner), dimana dirasa classification/statutory survey status tidak cukup menyediakan informasi tersebut. Maka diadakanlah pemerikasaan secara menyeluruh tentang kondisi kapal termasuk juga perhitungan teoritis apakah kapal tersebut masih cukup “kuat” untuk beroperasi selama masa charternya. Dari situ CAP seolah menjadi suatu acuan standard untuk tanker charter agreement, kemungkinan hal ini untuk menghindari tuntutan hukum yang sangat berat, mengingat isu lingkungan semakin menjadi sensitive pada dunia industry, termasuk bagi dunia pelayaran & perkapalan.
Pada perkembangannya CAP berkembang ke arah yang lebih luas, dimana dengan semakin naiknya trend penggunaan fasilitas apung seperti FPSO/FSO (Floating Production Storage & Offloading/ Floating Storage & Offloading) oleh perusahaan minyak dalam menunjang proses produksinya. Maka salah satu pengadaan FPSO/FSO adalah dengan mengkonversi kapal-kapal tanker disamping dengan pembangunan baru. Konversi oil tanker menjadi FPSO/FSO, biasanya dilakukan terhadap kapal-kapal tanker lambung tunggal yang rata-rata telah berusia tua. Untuk menilai apakah masih mungkin memakai kapal (nominated vessel) menjadi FPSO/FSO atau tidak, salah satu point penilaiannya bisa menggunakan CAP ini.
Dimana peran CAP dalam hal ini adalah menilai/ mengasses kondisi kapal-kapal tanker tersebut adalah:
  • Melihat bagaimana kondisi struktur actual pada utamanya dari close up survey dan thickness measurement.
  • Kemudian menghitung perkiraan sisa usia teknisnya dengan software, variable terhadap kelelahan struktur (Fatigue) juga menjadi pertimbangan yang utama.
  • Dari tahap-tahap assessment tersebut akan didapatkan CAP rating yang secara teori merepresentasikan kondisi actual kapal serta sisa usia teknis kapal.
  • Dari situ, dengan meninjau aspek design filosofi, design parameter dan rencana perpanjangan usia teknis untuk operational FPSO/FSO nantinya, jika kapal tersebut akan dirancang sebagai FPSO/FSO akan terlihat kekurangan parameter apa yang harus ditambahkan, apakah diperlukan penguatan struktur, bagaimana system penambatannya (mooring systemnya) dan banyak factor lagi. Hal ini mengingat secara teknis dan administrative pola operasi FPSO/FSO sangat jauh berbeda dengan trading tanker.

Senin, 07 Desember 2009

HOVERCRAFT









Hovercraft merupakan alternatif pilihan terhadap alat transportasi penumpang barang yang paling cocok digunakan di Indonesia, karena dapat digunakan di rawa, sungai, laut, danau dan di daratan. Suatu kelebihan dari Hovercraft adalah bersifat amphibi yang dapat didaratkan di pasir pada daerah pesisir pantai, sehingga tidak memerlukan dermaga khusus atau pelabuhan khusus.


Operasional hovercraft menggunakan bantalan udara membuat kecepatan jelajah dan manuver dengan cepat dan lincah. Adapun kemampuan performance dapat menjelajahi seluruh Indonesia, sesuai dengan geografis Indonesia terdiri dari beberapa ribu kepulauan yang dihubungkan dengan sejumlah selat dan laut yang sangat strategis dari Sabang sampai Merauke.
Wilayah yang merupakan medan terbuka dari arah utara ditinjau dari segi pertahanan dan keamanan merupakan kerawanan dari Aspek AGHT mulai dari infiltrasi, terorisme, sabotase dan penyeludupan serta perampokan hingga serbuan musuh dari arah laut, sehingga apabila tidak ditangani secara serius dapat merupakan kerawanan dalam pertahanan maritim.
Guna menjaga keutuhan wilayah kedaulatan NKRI diperlukan suatu system pertahanan di laut yang solid dan tangguh antara lain menguasai perairan dan lautan, melalui sarana transportasi laut salah satunya yaitu Hovercraft Versi Militer 15 penumpang.

Pra Perencanaan Kapal Hovercraft. Hovercraft dibuat oleh tenaga ahli putra-putra Indonesia yang dirancang-bangun secara profesional menggunakan teori bangunan kapal, mengawali pembuatan design awal suatu kapal dengan bentuk dan ukuran yang ideal (sesuai) ada beberapa persyaratan untuk mendapatkan suatu perbandingan yang cocok (akurat) dalam memenuhi karakteristek yang diinginkan.
Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui bagi pemilik kapal agar sesuai dengan rancang bangun yang baik melalui Pra Perencanaan kapal.
Adapun data-data yang diperlukan guna memenuhi karakteristik yang diinginkan pemilik kapal sebagai berikut:
• Data kecepatan kapal yang diinginkan (Vd).
• Berapa DWT (Dead Wenght Ton) kebutuhan kapal serta daya muat dan jenis muatan yang akan diangkut.
• Spesifikasi mesin penggerak kapal dalam hal ini daya angkat dan daya dorong terhadap hovercraft.
• Jenis/type kapal yang akan dibuat dalam hal ini hovercraft versi militer berpenumpang 15 orang.

Data-data tersebut di atas diproses untuk mendapatkan karakteristik kapal, sehingga dalam perencanaan kapal ada 2 tahap yaitu :
- Tahap perencanaan awal (preliminary design).
- Tahap perencanaan akhir (full design).

Beberapa ketentuan perencanaan awal untuk mendapatkan karakteristik sebuah kapal terdiri dari :• Ukuran utama (dimensi) kapal.
• Koefisien-koefisien bentuk kapal.
• Displacement (displacement = LWT + DWT) kapal
• Dead Weight Ton (DWT) kapal.
• Tahanan Kapal (terhadap air/gelombang dan udara).
• Stabilitas kapal.


Pada tahap perencanaan akhir suatu rancang bangun kapal, tinggal mengadakan koreksi maupun penyempurnaan dari perencanaan awal sehingga dalam tahap ini diperlukan sebagai berikut:
• Gambar-gambar perencanaan kapal mulai dari lines plan, hydrostatic curve, bouyancy curve, lambung timbul, konstruksi memanjang dan melintang kapal, rencana umum, layout engine room.
• Perhitungan-perhitungan perencanaan kapal yaitu: stabilitas kapal, kebocoran kapal (Floude doble length), mesin penggerak, motor bantu dan data lain yang diperlukan oleh pengguna, untuk spesifikasi khusus akan dilengkapi berdasarkan permintaan pemilik kapal.

Beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan dalam rancang bangun hovercraft yang tidak kalah pentingnya yaitu memperhatikan sifat/karakteristik kapal harus sesuai dengan spesifikasi teknis yang diperlukan sebagai berikut :

1. Pertimbangan faktor teknis. Semua kegiatan mulai dari pra perencanaan awal sampai dengan pembangunannya harus memenuhi peraturan dan ketentuan pengguna misalkan spesifikasi militer, termasuk keselamatan kapal, operasional kapal, kekuatan kapal, kemampuan kapal dan kemudahan perawatan kapal, daya angkat dan daya dorong kapal, serta bahan bakar kapal.

2. Pertimbangan faktor pengguna. Semua yang diinginkan oleh pengguna harus memenuhi spesifikasi militer termasuk kenyamanan, jenis muatan, kemudahan operasional, keamanan, kecepatan, daya muat yang memadai, daerah operasi yang dituju dan sistem bongkar muatan. Selain pertimbangan di atas sifat-sifat khusus dari kapal hovercraft sendiri harus diperhatikan sebelum melaksanakan proses rancang bangun yang ditentukan misal: muatan dan jenis muatan, versi militer atau versi komersial dan lain-lain. Untuk itu diperlukan suatu perhitungan yang disusun secara sistematis dalam suatu metode.

3. Pertimbangan faktor metode.
Metode yang digunakan untuk proses rancang bangun kapal hovercraft melalui proses rancang bangun dari beberapa metode yaitu :
 Metode perbandingan.
 Metode trial and eror.
 Metode statistik.
 Metode complex solution.

Metode di atas untuk membantu para perancang agar kapal yang diinginkan merupakan ukuran dan karakteristik yang ideal serta sebanding satu dengan yang lainnya yaitu: L/B; L/H; B/H dan H/D.
• L/B = Panjang berbanding lebar kapal
• L/H = Panjang berbanding tinggi kapal
• B/H = Lebar berbanding tinggi kapal
• H/D = Tinggi berbanding sarat kapal
Dari perbandingan di atas, pada akhirnya didapat ukuran utama yang sesuai sebagai berikut :
• Panjang kapal (Length over all) = 11,60 s/d 12,00 meter
• Lebar kapal (Bread) = 4,30 s/d 5,40 meter
• Tinggi kapal (Hight) = 2,85 s/d 3,20 meter
Sarat kapal (Draft) = 0,40 s/d 0,60 meter
• Daya angkat (Ground Cllerence) = 0,20 s/d 0,40 meter
• Kecepatan dinas = ± 30 knot
• Mesin utama : - tenaga angkat = 1 x 120 HP- tenaga dorong = 1 x 300 HP
• Sistem Propulsi : - propeller dorong = 4 daun- Daya angkat = Centrifugal Fan



Cara Kerja Hovercraft. Hovercraft adalah kapal yang berjalan di atas air dengan bantalan udara yang ditimbulkan dengan cara meniupkan udara ke ruang bawah (planum chamber) dari mesin 1 x 120 HP melalui Centrifugal Fan untuk mengangkat sehingga menimbulkan daya angkat (lift). Sedangkan untuk menggerakkan Hovercraft, menggunakan mesin tenaga dorong 1 x 300 Hp melalui propeller untuk mendorong gerak maju Hovercraft.

Daya Angkat Hovercraft Daya angkat (lift power) adalah besarnya energi persatuan waktu yang diberikan ke dalam system plenum chamber. Persamaan berikut digunakan untuk mencari daya angkat pada hovercraft :P,h.Plift =0,70 x 0,80 x 0,95P.h = [ (Pw) 1,5. hc.lcn.Dc (2/p)0,5.1,5]

Catatan :
 Effisiensi Fan 70 %
 Effisiensi Engine lift 80 %
 Effisiensi Mekanis 95 %Daya Dorong Hovercraft

Daya dorong (thrust Power) adalah besarnya tenaga yang dibutuhkan untuk mendorong kapal agar mampu melawan udara dan air/gelombang yang ditimbulkan/terjadi.

Persamaan berikut digunakan untuk mencari daya performa di darat:
Thrust (Va) = P.tot. (Va)0,70 x 0,85 x 0,95Pa (Va) = rho [(Va.Kph)3. Cd.S.(Va.kph)3.Cd.S.fr]2
Daya tahanan momentum: Pm (Va) = Q ( Va.kph)2.rho
Tahanan Skirt: Psk (Va) = Csk.W.(Va.kph)
Luas Froude: Sfr = Scab + S.HovP tot (Va) = Pm (Va) + Psk (Va) + Pa (Va)
Daya tahan Aerodinamik : Pa (Va) = rho [(Va.kph)3.Cd.S.fr]2

Catatan:
- Effisiensi Prop 70 %
- Effisiensi Engine Thrust 85%
- Effisiensi Mekanis 95 %

Persamaan berikut digunakan untuk mencari daya performa di air:
P.air thrust (Va) = P. tot. W. (Va)0,70 x 0,70 x 0,85

ware making drag =Pw (Va) = 2 P.Cu 2 A 1 – Cos (g 1 ) Va.kphL.rho.W.g (Va.kph)2Wetting Drag (Perbandingan dengan Skimaire)Diket = Daya ( Rwett + Rg ) = 35,2 NS Skirt = 1,257 m 2 V Cruise = 80 kphPwett (Va) = S hov Va3. 35,2 N.Va.kph1,257 m2 80Daya tahanan total di airP tot W ( Va ) = [ Pm ( Va ) + Pa ( Va ) + Pw ( Va ) + P wett (Va)]

Stabilitas dan Pengendalian Hovercraft. Stabilitas statis adalah kecendungan Hovercraft untuk melawan gangguan yang ditimbulkan oleh air dan udara. Kriteria stabilitas diperlukan untuk memenuhi unsur dari muatan yang diangkut dengan cara keseimbangan hovercraft tersebut. Stabilitas statis Hovercraft mempunyai beberapa kesamaan dengan pesawat terbang, karena Hovercraft mempunyai modus operasi gerak yang mirip dengan pesawat terbang, adapun gerak yang terjadi dari Hovercraft adalah gerak translasi dan rotasi.
Gerak translasi adalah gerak maju Hovercraft pada sumbu-sumbu, sedangkan gerak rotasi adalah gerak geleng Hovercraft pada sumbu-sumbu, selain gerak rotasi dan gerak translasi Hovercraft juga melakukan gerak rolling (berputar pada sumbu-sumbu X) dan gerak pitching (mengangguk pada sumbu-sumbu Y).

Skirt pada Hovercraft. Skirt adalah bagian flexible pada struktur Hovercraft yang terbuat dari karet lentur, dipasang pada sekeliling badan Hovercraft yang nantinya akan membentuk suatu bantalan udara ketika Hovercraft dioperasikan. Adapun pemilihan skirt tergantung dari jenis Hovercraft, ukuran dan medan operasi. Flexible skirt dapat menambah tinggi Hovercraft yang dapat dicapai tanpa memperbesar daya angkat.

Tahanan pada Hovercraft. Tahanan yang terjadi pada Hovercraft berbeda dengan kendaraan permukaan air lainnya, Hovercraft yang beroperasi di darat akan mengalami hambatan karena tahanan momentum, tahanan trim dan tahanan gesek karena kontak dengan skirt dan permukaan. Pengoperasian Hovercraft di air akan mengalami hambatan-hambatan berupa wave making drag (tahanan dari percikan air), Wetting drag (tahanan pembasahan) dan tahanan karena gelombang yang terjadi. Tinggi Hovering berpengaruh terhadap besarnya hambatan karena gesekan skirt dengan permukaan, bila daya angkat berkurang maka tinggi Hovering akan menurun sehingga menyebabkan gaya gesek bertambah besar pada skirt dengan demikian daya dorong yang dibutuhkan akan bertambah besar untuk mencapai kecepatan tertentu.

Demikian rancang bangun Hovercraft versi militer kapasitas penumpang 15 orang, merupakan sarana transportasi yang memiliki sifat amphibious (bisa di air dan di daratan). Pendaratan dapat dilakukan sejauh mungkin masuk ke daratan pada daerah yang datar seperti padang pasir/rumput maupun pantai berlumpur. Kelebihan Hovercraft sebagai kendaraan SAR sangat Effektif sehingga sangat cocok digunakan kepentingan militer, tinggal dilengkapi persyaratan militer di dalamnya sesuai ketentuan spesifikasi militer dari pengguna.

Jumat, 04 Desember 2009

Kapal Selam

Kapal selam adalah kapal yang bergerak di bawah permukaan air, umumnya digunakan untuk tujuan dan kepentingan militer. Sebagian besar Angkatan Laut memiliki dan mengoperasikan kapal selam sekalipun jumlah dan populasinya masing-masing negara berbeda. Selain digunakan untuk kepentingan militer, kapal selam juga digunakan untuk ilmu pengetahuan laut dan air tawar dan untuk bertugas di kedalaman yang tidak sesuai untuk penyelam manusia.
Jerman memiliki kapal selam yang populer dengan sebutan U-Boat yang merupakan ringkasan bagi Unterseeboot, mulai ditugaskan dalam Perang Dunia I sebagai sistem senjata yang mematikan bagi Angkatan Laut lawan terlebih-lebih pada Perang Dunia II. Sehingga terkenal dengan sebutan U-Class. Selain Jerman, negara yang populer menggunakan kapal selam sebagai kekuatan utama Angkatan Laut adalah Uni Soviet/Rusia
Salah satu pesawat selam yang lain adalah lonceng selam.

Jenis Jenis Kapal Selam
Berdasarkan Tenaga Penggerak (propulsi)
Kapal Selam Diesel Elektrik
Kapal selam diesel elektrik adalah sistem penggerak kapal selam tertua yang masih digunakan sampai saat ini. Sistem propulsi ini begitu handal sehingga negara pemilik kapal selam nuklir pun masih merasa perlu memiliki kapal selam diesel elektrik. Dari 5 negara pemilik kapal selam nuklir hanya
Amerika Serikat yang tidak menggunakan sistem propulsi ini. Dalam keadaan tertentu , kapal selam jenis ini lebih mematikan daripada kapal selam nuklir.
Kapal selam bertenaga
mesin diesel merupakan jenis kapal selam konvensional, mesin diesel dihidupkan jika kapal selam berada dipermukaan air untuk mengisi baterai sebagai sumber listrik menghidupkan motor elektrik untuk memutar baling-baling jika kapal menyelam. Pada kapal selam diesel modern, mesin dapat dihidupkan di kedalaman periskop, karena dilengkapi dengan saluran hisap dan buang mesin setinggi tiang periskop, sehingga kapal selam tidak harus berada di permukaan air. kapal selam jenis ini mempunyai daya jangkau yang terbatas karena kapasitas kebutuhan bahan bakar solar serta hanya mampu menyelam selama 3 jam saja, namun dapat diatasi dengan menggunakan blok baterai dengan bahan dan kualitas yang lebih baik, misalnya jenis silver-cadnium. Keunggulan kapal selam mesin diesel selain dari segi harga, dapat dikatakan hanya pada desain yang lebih kecil dibandingkan kapal selam bertenaga nuklir, sehingga kemungkinan terdeteksi sonar lebih kecil serta mampu bermanuver dengan sudut derajat yang cukup tajam.
Diperoleh dari "
http://id.wikipedia.org/wiki/Kapal_selam_diesel"

Kapal Selam Nuklir
Kapal selam bertenaga
nuklir adalah kapal selam yang menggunakan reaktor air bertekanan atau PWR (pressurizer water reactor) sebagai sumber tenaga memutar turbin utama yang menggerakkan baling-baling serta motor elektrik pengisi baterai yang menghasilkan listrik untuk berbagai keperluan.
Tidak seperti
kapal selam diesel yang harus muncul ke permukaan untuk menghisap udara yang dibutuhkan mesin diesel, keunggulan kapal selam nuklir adalah masa operasionalnya serta lebih bertenaga meskipun kapal selam mempunyai ukuran besar dan harus dalam kondisi menyelam, uranium sebagai bahan bakar dari reaktor dapat diganti setelah 3 tahun pemakaian. Faktor penghambat masa operasional hanya kebutuhan suplai awak kapal.
Munculnya Kapal Selam Nuklir
Sekitar enam bulan sebelum pecahnya PD II, pada Maret 1939 Dr George Pegram dari Columbia University, New York, mengusulkan kepada Angkatan Laut AS ( US Navy ) untuk mengembangkan pemakaian uranium sebagai sumber daya, termasuk untuk menggerakkan turbin kapal selam. Angkatan Laut tertarik dan memulai riset. Tetapi setelah pengboman Pearl Harbour dan AS terlibat dalam perang, semua material yang berkaitan dengan tenaga atom ditarik, dipusatkan untuk " Proyek Manhattan " guna pembuatan bom atom pertama ( Little Boy dan Fat Man )
Kapal Selam Engineless
Terdapat pesawat selam jenis tanpa mesin (engine) yang dipanggil
bathysphere. Sebelum bathysphere, dikenal dengan loceng selam ("diving bell"), berbentuk loceng dalam air dengan lantai terbuka. Udara dipompa masuk oleh kru di atas kapal agar penyelam/peneliti tinggal lebih lama di bawah air

Berdasarkan Fungsi
Kapal selam militer
Kapal selam militer digunakan untuk kepentingan
perang atau patroli laut suatu negara, berdasarkan jenisnya setiap kapal selam militer selalu dilengkapi dengan senjata seperti meriam kanon, torpedo, rudal penjelajah / anti pesawat dan anti kapal permukaan, serta rudal balistik antar benua.

Kapal Selam Non Militer
Kapal selam non militer umumnya digunakan untuk penelitian atau riset bawah air, umumnya berukuran lebih kecil daripada Kapal Selam Militer.
Selain digunakan untuk riset terdapat kapal selam khusus untuk perdagangan namun jarang atau hampir tidak pernah dijumpai. Tercatat Jepang pernah menggunakan kapal selam jenis itu untuk menembus blokade musuh pada
Perang Dunia II.

dari: wikipedia

"Oasis of The Sea" Largest Ship Liner in the World


(AP) The world's largest cruise liner on Friday began its maiden voyage to Florida, gliding out from a shipyard in Finland with an amphitheater, basketball courts and an ice rink on board. The 16-deck Oasis of the Seas spans 1,200 feet (360 meters) from bow to stern. Its 2,700 cabins can accommodate 6,300 passengers and 2,100 crew. Commissioned by Royal Caribbean International, the ship cost euro1 billion ($1.5 billion) and took two and a half years to build at the STX Finland Oy shipyard in Turku, southwestern Finland. The liner has four swimming pools, volleyball and basketball courts, and a youth zone with theme parks and nurseries for children. There is also an ice rink that seats 780 spectators and a small-scale golf course. It features various "neighborhoods" - parks, squares and arenas with special themes. One of them will be a tropical environment, including palm trees and vines among the total 12,000 plants on board. They will be planted after the ship arrives in Fort Lauderdale. In the stern, a 750-seat outdoor theater - modeled on an ancient Greek amphitheater - doubles as a swimming pool by day and an ocean front theater by night. The pool has a diving tower with spring boards and two 33-feet (10-meter) high dive platforms. An indoor theater seats 1,300 guests. Accommodation includes loft cabins measuring 545 square feet (51 square meters) with floor-to-ceiling windows. There are also 1,600-square-feet (150 square meter) luxury suites with balconies overlooking the sea or promenades. One of the "neighborhoods," named Central Park, features a square with boutiques, restaurants and bars, including the "Rising Tide" bar, which the shipping line describes as "the first moving bar at sea." It moves up and down three decks, allowing customers to get on and off at different level promenades. Engineers at shipbuilder STX Finland said environmental considerations played an important part when planning the vessel, which dumps no sewage into the sea, reuses its waste water and consumes 25 percent less power than similar, but smaller, cruise liners. "I would say this is the most environmentally friendly cruise ship to date," said Mikko Ilus, project engineer at the Turku yard. "It is much more efficient than other similar ships." The liner was due to make its U.S. debut on Nov. 20 at its home port, Port Everglades in Florida and will be officially named on Nov. 30. It will embark on its first cruise - a four-day trip to the port of Labadee in Haiti - on Dec. 1. The Oasis of the Seas was due to call in at the English port of Southampton before continuing its voyage across the Atlantic. STX Finland is building a sister ship - Allure of the Seas - for Royal Caribbean which is due to be launched in 2011.

USS New York (LPD-21)

USS New York (LPD-21), the fifth San Antonio-class amphibious transport dock, is the sixth ship of the United States Navy to be named after the state of New York. The New York has a crew of 360, and can also carry up to 700 Marines. The ship is notable for using some steel that was salvaged from the World Trade Center, after it was destroyed in an Al-Qaeda terrorist attack on 9/11.
The ship is the first to be designed fully from the CAD-screen up to support all three of the Marines' primary mobility capabilities — the
Expeditionary Fighting Vehicle (EFV), Landing Craft Air Cushion and MV-22B Osprey.Shortly after 11 September 2001, Governor of New York George E. Pataki wrote a letter to Secretary of the Navy Gordon R. England requesting that the Navy bestow the name USS New York on a surface warship involved in the War on Terrorism in honor of September 11's victims.The contract to build the New York was awarded to Northrop Grumman Ship Systems of New Orleans, Louisiana, in 2003. The New York was under construction in New Orleans at the time of Hurricane Katrina in 2005.

World Trade Center steel.


7.5 short tons (6.8 t) of the steel used in the ship's construction came from the rubble of the World Trade Center, this represents less than one thousandth of the total weight of the ship. The steel was melted down at Amite Foundry and Machine in Amite, Louisiana, to cast the ship's bow section. It was poured into the molds on 9 September 2003, with 7 short tons (6.4 T) cast to form the ship's "stem bar" — part of the ship's bow. The shipyard workers reportedly treated it with "reverence usually accorded to religious relics", gently touching it as they walked by. One worker delayed his retirement after 40 years' work to be part of the project.

Commissioning.

The ship commissioning of USS New York took place on November 7, 2009, in New York City. Speakers included Secretary of State Hillary Rodham Clinton, Secretary of the Navy Ray Mabus, Gov. David Paterson, Mayor Michael Bloomberg, Admiral Gary Roughead, and Commandant of the Marine Corps James T. Conway.Approximately one in seven of the plank owners are from New York state, a larger number than usual.
From Wikipedia, the free encyclopedia

Rabu, 02 Desember 2009

PT PAL Buat Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR)




JAKARTA, KOMPAS.com - Dengan pengalaman yang ada selama ini, PT PAL Indonesia yakin bisa membuat kapal perang perusak kawal rudal dalam waktu 4 tahun. Pembuatan kapal perang yang bersenjatakan peluru kendali merupakan langkah besar guna kemandirian pengadaan alat utama sistem persenjataan atau alutsista.
Hal tersebut disampaikan Direktur PT PAL Indonesia Harsusanto kepada Kompas, Rabu (2/12). Menurut Harsusanto, berhubung ini adalah kapal pertama, pihaknya bekerja sama dengan pihak lain. ”Kami sudah bisa bikin struktur kapalnya, tetapi untuk sistem elektroniknya kami harus kerja sama dengan pihak yang sudah pengalaman. Jadi, kami perlu sharing contract (kontrak bersama),” kata Harsusanto.
Kerja sama dengan pihak asing ini juga ditargetkan untuk adanya alih teknologi. Pengerjaan kapal yang harus dilakukan di PT PAL Indonesia juga membuat komponen lokal akan dipakai.
Menurut Harsusanto, pihaknya membutuhkan waktu sekitar 4 tahun untuk membuat kapal perang perusak kawal rudal (PKR) yang pertama. Harga satu kapal mencapai 170 juta euro. Setelah itu, dengan selang waktu masing-masing 6 bulan bisa diluncurkan lagi kapal PKR yang kedua dan ketiga.
Saat ini, menurut Harsusanto, kontrak memang belum ditandatangani. Namun, sebagai bagian dari program 100 hari Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, ia mengharapkan kontrak akan ditandatangani bulan Januari 2010. ”Empat tahun kemudian, kita sudah bisa luncurkan PKR,” kata Harsusanto.

Kapal LST
Selain kapal PKR, PT PAL juga berencana memproduksi kapal pendarat tank serbu atau landing ship tank (LST) dalam waktu dua tahun mendatang. Menurut Harsusanto, pihaknya telah menerima rancangan LST dari TNI Angkatan Laut. Kapal angkut sepanjang 117 meter ini merupakan kapal modern.
Secara terpisah, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Madya Agus Suhartono berkomitmen mendukung berkembangnya industri pertahanan dalam negeri. Menurut dia, TNI AL berkomitmen akan memilih untuk membuat kapal di dalam negeri seandainya industri dalam negeri telah mampu.
KSAL optimistis melihat arah industri dalam negeri untuk pembuatan alutsista tersebut. ”Kita minggu lalu sudah luncurkan kapal LPD KRI Banjarmasin,” kata Agus Suhartono mengenai kapal landing platform deck (LPD) terbaru milik TNI Angkatan Laut.
Harsusanto menyatakan, setelah KRI Banjarmasin, PT PAL akan meluncurkan kapal LPD lainnya, KRI Banda Aceh, pada bulan Juni 2010. (EDN/BUR)

KRI Banjarmasin resmi memperkuat TNI Angkatan Laut



Liputan6.com, Surabaya: Kapal jenis landing platform dock (LPD) buatan PT PAL yang diberi nama KRI Banjarmasin-592 resmi memperkuat TNI Angkatan Laut, sejak 28 November 2009. Peresmian dilakukan setelah penyerahan kapal tersebut dari PT PAL ke Departemen Pertahanan yang selanjutnya diserahkan kepada TNI AL dalam sebuah upacara militer di Surabaya, Sabtu (28/11).Upacara peresmian dihadiri Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Kepala Staf Umum Laksamana Madya TNI Didik Heru Purnomo dan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya TNI Agus Suhartono. KRI Banjarmasin adalah salah satu dari dua unit kapal jenis LPD 125 meter, yang dibangun di galangan pembuatan kapal milik PT PAL, Surabaya, Jawa Timur.Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul mengatakan, kapal buatan PT PAL tersebut menjadi kapal LPD ketiga yang masuk jajaran TNI AL. Dua kapal LPD pertama dibuat pabrik Korea Selatan, Daewoo International Corporation, dan diserahkan kepada TNI AL tahun silam.Dibandingkan dengan dua LPD pertama, alat utama sistem persenjataan TNI AL yang dibangun di PT PAL ini mengalami sejumlah penyempurnaan mengikuti keinginan TNI AL. Seperti ditulis ANTARA, penyempurnaan itu antara lain daya angkut helikopter ditambah dari tiga menjadi lima, kecepatan kapal ditingkatkan dari 15 knot menjadi 15,4 knot, dan bentuk bangunan atas mengurangi penampang radar sehingga membuat kapal lebih sulit ditangkap radar musuh.Selain itu, kapal LPD tersebut juga dirancang untuk bisa dipasangi senjata 100 milimeter dan dilengkapi ruang khusus untuk sistem kendali senjata (fire control system), yang memungkinkan kapal mampu melaksanakan pertahanan diri. Kapal yang dibeli dengan fasilitas pembiayaan kredit ekspor ini berfungsi sebagai pengangkut kapal pendarat pasukan, operasi amfibi, pengangkut tank, pengangkut personel, juga untuk operasi kemanusiaan dan penanggulangan bencana serta pengangkut helikopter.